Pencarian

KPI Usul Literasi Media Digital Masuk Kurikulum Sekolah, Bukan Sekadar Cegah Hoaks

Selasa, 11 Agustus 2026 • 11:22:01 WIB
KPI Usul Literasi Media Digital Masuk Kurikulum Sekolah, Bukan Sekadar Cegah Hoaks
Rapat pembahasan usulan literasi media digital masuk kurikulum sekolah digelar di Jakarta, Senin (10/8/2026).

SUMATERA SELATAN — Ruang digital yang semestinya menjadi ladang produktif justru berubah menjadi jerat bagi banyak warga. Perilaku impulsif, kecanduan gawai, hingga jatuh korban modus penipuan dan hoaks disebut sebagai indikasi lemahnya fondasi literasi yang ditanamkan sejak pendidikan dasar.

Memahami Algoritma dan Cara Kerja Medsos

Tulus Santoso menilai persoalan utama bukan pada akses internet atau kepemilikan gawai, melainkan pemahaman mendasar tentang ekosistem digital. Masyarakat umumnya mahir mengoperasikan aplikasi, tetapi buta terhadap mekanisme di balik layar yang justru mengendalikan perilaku mereka.

“Kita tahu bagaimana koneksi ke internet, menggunakan gawai, termasuk bermain medsos. Tapi pemahaman kita bagaimana medsos bekerja seperti apa algoritma dan bagaimana cara mengambil keuntungan dari internet masih belum banyak yang paham,” ujar Tulus di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Era Digital Jauh Lebih Kompleks dari Media Konvensional

Fenomena ini mengulang pola di era media tradisional, di mana dampak negatif media dan konsep agenda setting hanya dipahami kalangan terbatas seperti pegiat media atau akademisi ilmu komunikasi. Kini, tantangan itu berlipat ganda karena arus informasi bergerak deras tanpa filter dan terpersonalisasi.

Akibatnya, banyak pengguna tidak sekadar tersesat oleh informasi palsu, tetapi juga terkunci dalam ruang gema atau echo chamber dan gelembung filter yang mengisolasi mereka dari perspektif berbeda. Kondisi ini dinilai lebih berbahaya karena membentuk polarisasi dan memperkuat bias tanpa disadari.

Urgensi Kurikulum Baru untuk Generasi Digital

Menurut Tulus, pendidikan literasi yang ada selama ini masih bersifat seremonial dan parsial. Ia menekankan perlunya pendekatan terstruktur melalui kurikulum resmi agar pemahaman tentang etika digital, keamanan siber, dan mekanisme algoritma menjadi kompetensi dasar, bukan sekadar materi tambahan.

Usulan ini sejalan dengan kebutuhan mendesak untuk membekali generasi muda menghadapi lanskap informasi yang kian rumit. Jika tidak segera direspons, kesenjangan antara kemampuan teknis dan pemahaman kritis akan terus melebar, membuat masyarakat semakin rentan terhadap eksploitasi digital.

Follow www.sumseloke.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: nasional.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks