Badan Pusat Statistik mencatat Provinsi Sumatera Selatan mengalami inflasi 0,21 persen secara bulanan pada September 2026, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang terbesar. Lima komoditas pangan utama yakni beras, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan pisang menjadi pendorong kenaikan harga tersebut. Secara tahunan, inflasi Sumsel mencapai 2,55 persen dengan emas perhiasan dan beras sebagai kontributor teratas.
PALEMBANG — Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil 0,20 persen terhadap inflasi bulanan September 2026, dengan tingkat inflasi kelompok mencapai 0,65 persen. Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto menyebut kenaikan harga pangan menjadi pemicu utama pergerakan indeks harga konsumen di wilayah tersebut.
"Lima komoditas utama yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan yakni beras, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras dan pisang," kata Wahyu di Palembang.
Selain kelompok pangan, kelompok transportasi menyumbang andil 0,02 persen dengan tingkat inflasi 0,14 persen. Kelompok pendidikan memberikan andil 0,01 persen dengan tingkat inflasi 0,17 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga mencatat andil 0,01 persen dengan tingkat inflasi 0,05 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mengalami deflasi 0,31 persen dengan andil deflasi 0,03 persen.
Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatat deflasi 0,01 persen pada periode yang sama.
Secara tahunan, Sumatera Selatan mengalami inflasi 2,55 persen pada September 2026. Lima komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan yakni emas perhiasan, beras, daging ayam ras, bensin, dan minyak goreng.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,90 persen dengan andil 0,58 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan sebesar 0,90 persen dengan tingkat inflasi kelompok 2,89 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang berikutnya dengan andil 0,46 persen dan tingkat inflasi 3,56 persen.
Kenaikan harga beras dan cabai rawit secara bulanan berdampak langsung pada belanja harian rumah tangga di Sumsel. Kedua komoditas tersebut termasuk kebutuhan pokok yang dikonsumsi hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama di pasar tradisional dan warung kampung.
Inflasi tahunan 2,55 persen masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Namun tekanan pada kelompok pangan tetap menjadi perhatian karena bobotnya besar dalam keranjang konsumsi warga berpenghasilan rendah.
BPS Sumsel merilis data ini sebagai bagian dari laporan indeks harga konsumen periode September 2026 yang mencakup pantauan harga di sejumlah pasar di wilayah provinsi.