PALEMBANG — Pemantauan kualitas udara pada Jumat (2/10/2026) pukul 08.00 WIB menempatkan Palembang pada kategori berbahaya. Selain PM2.5, cuaca tercatat bersuhu 29 derajat Celsius dengan kecepatan angin sekitar 10 kilometer per jam dan kelembapan 67 persen.
Konsentrasi PM2.5 sebesar 371 µg/m³ jauh melampaui ambang batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia. Angka itu menjadikan udara Palembang pagi ini sebagai salah satu yang terburuk di Indonesia.
Data SiPongi+ dalam 24 jam terakhir mencatat 3.053 hotspot tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sumsel. Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi penyumbang terbesar dengan 1.905 titik.
Banyuasin menyusul dengan 485 titik, disusul Musi Banyuasin sebanyak 384 titik. Muara Enim terdeteksi 64 titik, Ogan Ilir 57 titik, dan Ogan Komering Ulu Selatan 48 titik.
Daerah lain yang turut terdeteksi hotspot yakni Ogan Komering Ulu 29 titik, Penukal Abab Lematang Ilir 23 titik, Musi Rawas 12 titik, Empat Lawang 11 titik, Lahat 11 titik, dan Ogan Komering Ulu Timur 11 titik. Musi Rawas Utara tercatat 8 titik, sementara Kota Palembang hanya 5 titik.
Data tersebut terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2026 pukul 08.24 WIB.
Tingginya titik panas di sejumlah kabupaten, terutama OKI, Banyuasin, dan Musi Banyuasin, menjadi indikator masih tingginya aktivitas kebakaran hutan dan lahan di Sumsel. Asap dari karhutla diduga turut menyumbang buruknya kualitas udara Palembang.
Konsentrasi PM2.5 yang sangat tinggi membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan polusi. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Warga Palembang dapat memantau indeks kualitas udara secara berkala melalui kanal resmi pemerintah. Penggunaan masker N95 saat beraktivitas di luar ruangan menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan.
Pemerintah daerah diharapkan mempercepat penanganan karhutla di kabupaten dengan titik panas terbanyak. Penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi kunci menekan polusi udara di Sumsel.