PALEMBANG — Kriteria itu disampaikan Riza saat menjelaskan tahapan menuju pergantian kepemimpinan Kwarda Sumsel. Menurutnya, syarat berkelakuan baik dan bermoral bukan sekadar formalitas, melainkan sudah diatur dalam Anggaran Rumah Tangga organisasi.
"Terpenting berkelakuan baik dan bermoral baik. Di ART itu jelas, berkelakuan baik. Jangan pernah narapidana, apalagi pemakai narkoba atau zat adiktif, itu kan berlawanan dengan Dasa Darma Pramuka serta Tri Satya," ujar Riza.
Alasan moral jadi syarat utama, kata Riza, karena Pramuka membina anak-anak yang dititipkan orang tua. Jika pengurusnya bermasalah secara moral, kepercayaan orang tua bisa goyah.
"Amoral, apa lagi kasarnya amoral itu, mohon maaf ya, yang menjadi contoh itu kan anak-anak titipan orang tua. Kalau amoral, misalkan untuk berkemah saja orang tua bimbang dan ragu. Mana jadi kemah itu," katanya.
Dari penjelasan Riza, setidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan calon Ketua Kwarda Sumsel periode berikutnya.
Riza menyebut calon dari luar Kota Palembang tetap punya peluang untuk mencalonkan diri. Meski begitu, ia mengingatkan soal mobilitas dan koordinasi harian jika yang bersangkutan terpilih.
"Kalau calon sendiri dari luar kota, boleh-boleh saja. Cuma bagaimana roda organisasi akan berjalan kalau misalkan terpilih dari luar Kota Palembang, sedangkan sentral kantornya ada di Kota Palembang," ujarnya.
Ia berharap calon terpilih nanti tinggal di Palembang agar seluruh proses organisasi berjalan lebih mudah. Koordinasi dengan pimpinan dan atasan juga jadi pertimbangan penting.
"Yang jelas bisa kerja sama dengan pimpinan. Nomor dua, kalau dengan atasan. Yang kedua bisa menghimpun, minimal dia tinggal berdomisili di sini, diusahakan di Kota Palembang biar semua prosesnya lebih mudah," ucapnya.
Sejumlah nama yang berpotensi maju sebagai calon Ketua Kwarda Sumsel disebut sudah mulai terlihat. Namun Riza belum bersedia membuka nama-nama itu ke publik.
"Untuk bakal calonnya sendiri insya Allah terlihat, tapi masih dirahasiakan. Sudah saya laporkan dengan pimpinan, dalam hal ini Ka Mabida, yakni Gubernur Sumsel. Dan Gubernur Sumsel melihat yang kita usulkan itu semuanya masuk standar," ungkapnya.
Riza berharap pemilihan dalam Musda nanti berlangsung dengan suasana kekeluargaan. Menurutnya, karakter Pramuka tidak seharusnya diwarnai persaingan yang memecah hubungan antarkader.
"Rata-rata Pramuka ini mayoritas aklamasi, tidak gontok-gontokan, guyub. Namanya kan harus ditunjukkan organisasi mengayomi, digugu dan ditiru. Tidak ada mau sikut kanan, sikut kiri, itu bukan wataknya Pramuka," tegasnya.
Persiapan Musda Kwarda Gerakan Pramuka Sumsel yang dijadwalkan November 2026 disebut telah mencapai sekitar 70 persen. Panitia pelaksana sudah dibentuk dan melakukan audiensi dengan Ketua dan Wakil Ketua Mabida Sumsel, yang juga Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel.
Audiensi itu untuk menyampaikan perkembangan persiapan sekaligus meminta arahan. Riza berharap Musda menghasilkan kepengurusan baru yang mampu melanjutkan program dan memajukan Gerakan Pramuka di Sumatera Selatan.
"Yang penting majukan Pramuka di Sumsel," pungkasnya.