Kepolisian Resor Ogan Ilir meluncurkan gerakan "Emak-Emak Peduli Karhutla" di Desa Pulau Semambu, Sumatera Selatan, untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan berbasis partisipasi warga. Program ini menempatkan kaum perempuan sebagai sistem peringatan dini komunitas, bukan pemadam api di lapangan. Kapolres Ogan Ilir AKBP Rizka Aprianti menyebut gerakan tersebut mengusung semboyan "Emak Bergerak, Api Dicegah, Desa Terjaga".
OGAN ILIR — Polres Ogan Ilir menyasar sejumlah kelompok perempuan di Desa Pulau Semambu, mulai dari anggota PKK, kader Posyandu, pelaku UMKM, jamaah pengajian, hingga ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan rawan karhutla. Mereka dilibatkan sebagai mata dan telinga di tingkat kampung, tanpa dituntut turun langsung memadamkan api.
Metode yang dipakai bernama "Satu Foto, Satu Lokasi". Para ibu diminta mendokumentasikan indikasi bahaya seperti kepulan asap, pembakaran sampah, atau pembersihan lahan dengan cara dibakar, lalu mengirimkan foto beserta titik koordinatnya kepada Bhabinkamtibmas dan pemerintah desa untuk diverifikasi cepat.
Pendekatan edukasi ditempuh lewat jalur yang sudah akrab di lingkungan perdesaan. Polres Ogan Ilir mengandalkan pola "Emak Tegur Emak" di forum arisan maupun pengajian untuk mengingatkan dampak asap kebakaran bagi kesehatan anak-anak.
Cara tersebut dipilih karena teguran sesama ibu dinilai lebih mudah diterima ketimbang imbauan formal dari petugas. Pesan soal bahaya karhutla disampaikan dalam bahasa sehari-hari, bukan lewat penyuluhan kaku.
Gerakan ini juga mengampanyekan program "1 Rumah 1 Pencegah Api". Setiap keluarga diajak berkomitmen tidak membersihkan lahan dengan cara dibakar, mengelola sampah secara bijak, dan segera melapor jika menemukan potensi titik api.
Dengan pola itu, arus informasi mengenai titik panas diharapkan mengalir lebih cepat dari tingkat RT ke aparat desa. Mitigasi karhutla tidak lagi bergantung pada patroli petugas semata.
AKBP Rizka Aprianti menerangkan program ini berfokus pada pemberdayaan perempuan di tingkat perdesaan. Kaum ibu dinilai punya jangkauan sosial paling luas di kampung, dari dapur hingga majelis taklim.
Peluncuran gerakan tersebut diharapkan mengubah mitigasi karhutla menjadi tanggung jawab kolektif yang tumbuh dari keluarga. Dengan begitu, bencana kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan secara maksimal.